A.
Ayat
Pokok Menanamkan Keikhlasan Dalam Beribadah
Keikhlasan dalam
beribadah ialah beribadah semata-mata hanya kepada Allah SWT. Menyembah kepada
Allah SWT dan menjahui kemusyrikan adalah agama yang benar dan lurus.
Menjalankan ibadah yang telah di tetapkan oleh Allah SWT dengan penuh
keikhlasan, seperti dalam menjalankan perintah shalat yang tepat pada waktunya
dengan khusyuk serta lengkap dengan
rukun dan syaratnya. Kata ikhlas secara harfiah berarti murni, suci,
atau bersih. Konteks ikhlas ini berkaitan dengan niat. Niat adalah dorongan
dalam hati manusia untuk melaksanakan amal perbuatan tertentu. Dalam
mengamalkan ajaran agama Islam hendaknya dilandasi dengan niat ikhlas karena
Allah swt, artinya dengan kesadaran semata-mata hanya menaati perintah-Nya dan
untuk memperoleh ridho-Nya.
Qs. Al-an’am:
162-163
قُلْ
انَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
لاَشَرِيْكَ لَه وَبِذلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَاْ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya : Katakanlah sesungguhnya sembahyangku,
ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada
sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah
orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.[1] (QS.Al-An’am:
162-163).
B.
Makna
Mufradat[1]
(Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku) amal ibadahku yaitu ibadah
haji dan lain-lainnya
|
قُلْ انَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ
|
hidupku (kehidupanku)
|
وَمَحْيَايَ
|
dan matiku (meninggalku)
|
وَمَمَاتِيْ
|
hanyalah untuk Allah (tuhan semesta alam)
|
لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
|
(tiada sekutu bagi-Nya) di dalam hal tersebut
|
لاَشَرِيْكَ لَه
|
(dan demikian itulah) ketauhidan
|
وَبِذلِكَ
|
(yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama
menyerahkan diri kepada Allah) dari kalangan umat ini
|
اُمِرْتُ وَ اَنَاْ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
|
B.
Isi kandungan Qs. Al-an’am: 162-163.
Surah
al-An‘am [6] Ayat 162–163 memberi penjelasan kepada kita tentang keikhlasan
dalam beribadah. Ayat tersebut juga merupakan salah satu bagian doa iftitah
salat yang diajarkan Rasulullah saw. yang artinya, ”. . . Sesungguhnya salatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak
ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah
orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”
Ayat
162–163 Surah al-An‘am [6] merupakan pengakuan terhadap kekuasaan Allah Swt.
Tidak ada Tuhan selain Allah Swt. dan hanya Dia yang patut disembah karena
tidak ada satu pun makhluk yang dapat menandingi kekuasaan-Nya. Tidak ada
sesuatu pun yang setara dengan Dia. Allah Swt. tidak menyukai orang-orang yang
menyekutukan-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi yang artinya, ”Dari
Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Allah yang Mahamulia dan
Mahabesar berfirman: ’Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan
sekutu, barang siapa yang beramal sesuatu amal ia menyekutukan kepada
selain-Ku, maka Aku terlepas dari padanya, amal itu untuk sesuatu yang ia
sekutukan’.” (H.R. Ibnu Ma-jah) Minimal lima kali dalam sehari semalam kita
mengulangi ikrar dan pengakuan ini. Ikrar yang diucapkan pada saat hendak
menunaikan salat menandakan bahwa kita ikhlas menunaikannya karena Allah Swt.
semata.
Perintah
untuk beribadah dengan ikhlas kepada Allah Swt. sangat wajar. Hal ini karena
Dia telah mengaruniakan nikmat yang berlimpah kepada kita. Oleh karena itu,
semua amal dan ibadah sehari-hari harus kita ikhlaskan hanya untuk mencari rida
Allah Swt. Kesediaan mengerjakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya
merupakan salah satu bentuk keikhlasan sebagai makhluk. Kewajiban beribadah
kepada Allah Swt. sangat banyak macamnya seperti kewajiban menunaikan salat.
Perintah menunaikan salat dapat kita temukan dalam ayat Al-Qur’an dan hadis.
Ketika azan telah berkumandang, sebagai umat Islam kita hendaknya segera
menunaikan salat dengan meninggalkan aktivitas duniawi untuk sementara. Salat
hendaknya ditunaikan tanpa paksaan dari pihak lain dengan kesadaran untuk
tunduk pada perintah-Nya secara ikhlas. Selain itu, dengan menunaikan salat
seseorang dapat berkomunikasi dan mengadukan persoalan yang dihadapi secara
langsung kepada zat Yang Mahaagung.
Semua
ibadah yang kita kerjakan harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah
Swt. semata. Pada saat kita mengerjakan ibadah mahdah, yaitu ibadah yang telah
ada ketetapan secara pasti, seperti salat, puasa, haji, dan zakat harus
diniatkan ikhlas karena Allah Swt. semata. Bukan hanya ibadah mahdah, tetapi
ibadah gairu mahd.ah, yaitu ibadah yang tidak ada aturan yang pasti, harus
didasarkan niat untuk menggapai rida dari Allah Swt. Dapat disimpulkan bahwa
seluruh amaliah yang kita kerjakan seharihari harus diniatkan untuk mencari
rida dari Allah Swt. Sebaliknya, jika amal kebajikan kita sehari-hari diniatkan
untuk mendapat penghargaan, sanjungan, ataupun imbalan dari sesama manusia,
belum dikatakan ikhlas karena Allah. Dengan demikian, perbuatan tersebut
berarti tidak bernilai ibadah sehingga kita tidak berhak mendapatkan balasan
kebaikan dari-Nya.
Selain
amal yang harus diniatkan ikhlas karena Allah Swt. semata, hidup dan mati juga
diserahkan hanya untuk-Nya. Allah Swt. yang telah menciptakan diri kita dan
seluruh makhluk. Allah yang telah mengaruniai nyawa sehingga kita dapat
merasakan kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, kita harus menyerahkan kesempatan
hidup untuk mengabdi kepada- Nya. Oleh karena hidup hanya untuk Allah Swt.,
kita pun rela berkorban untuk memenuhi perintah-Nya. Hanya Allah Swt. yang
memiliki kekuasaan untuk menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Seluruh
makhluk akan kembali kepada-Nya.
Pada
penghujung ayat pertama dijelaskan ”Tidak ada sekutu bagi Allah dan demikianlah
yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah
diri (muslim).” Allah adalah Tuhan Maha Esa yang menciptakan, mengatur, dan
memelihara makhluk-Nya. Dari sini, kita dianjurkan untuk menyerahkan diri
kepada Allah dan melepaskan diri dari berharap kepada makhluk-Nya. Penyerahan
diri inilah yang disebut dengan Islam. Sebagai bukti penyerahan diri kepada
Allah, kita harus bersedia mengerjakan ibadah seperti yang diajarkan Rasulullah
saw. serta menaati semua perintah dan menjauhi larangannya dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita menjadi seorang muslim sempurna
yang memiliki keteguhan iman serta tekad yang kuat untuk menjalankan ibadah
secara ikhlas karena Allah Swt.
Dari kandungan ayat 162–163 Surah
al-An‘am [6] dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1.
Menunaikan
ibadah harus ikhlas untuk mencari rida Allah Swt.
2.
Hidup
dan mati hanya Allah yang menentukan sehingga kita seharusnya bersikap ikhlas
dalam menjalani hidup dan berserah diri jika Allah berkehendak mencabut nyawa
kita.
3.
Larangan
untuk menyekutukan Allah dengan segala sesuatu apa pun.
4.
Kita
dianjurkan untuk berusaha menjadi golongan orang-orang yang berserah diri
kepada Allah Swt.
Wujud
peneladanan terhadap kandungan Surah al-An‘am [6] ayat 162–163 yang dapat kita
lakukan dalam kehidupan seharihari adalah berniat dalam menunaikan ibadah hanya
untuk Allah Swt. semata. Selain itu, suatu pekerjaan yang baik harus kita
niatkan karena Allah Swt. Hal ini karena segala sesuatu tergantung pada niat.
Jika suatu perbuatan diniatkan sebagai ibadah, Allah Swt. akan mencatatnya
sebagai ibadah
[1]Imam Jalaludin Al-Mahalli. 2008. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut
Asbabunnuzul. Penerjemah: Bahrun Abu bakar, L.C. Bandung: Sinar Baru
Algensindo. Hal: 579
Tidak ada komentar:
Posting Komentar