Love Valentine's Day Pumping Heart

Rabu, 01 Juni 2016

Menanamkan Keikhlasan Dalam Beribadah


A.   Ayat Pokok Menanamkan Keikhlasan Dalam Beribadah
Keikhlasan dalam beribadah ialah beribadah semata-mata hanya kepada Allah SWT. Menyembah kepada Allah SWT dan menjahui kemusyrikan adalah agama yang benar dan lurus. Menjalankan ibadah yang telah di tetapkan oleh Allah SWT dengan penuh keikhlasan, seperti dalam menjalankan perintah shalat yang tepat pada waktunya dengan khusyuk serta lengkap dengan  rukun dan syaratnya. Kata ikhlas secara harfiah berarti murni, suci, atau bersih. Konteks ikhlas ini berkaitan dengan niat. Niat adalah dorongan dalam hati manusia untuk melaksanakan amal perbuatan tertentu. Dalam mengamalkan ajaran agama Islam hendaknya dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah swt, artinya dengan kesadaran semata-mata hanya menaati perintah-Nya dan untuk memperoleh ridho-Nya.
Qs. Al-an’am: 162-163

قُلْ انَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَشَرِيْكَ لَه وَبِذلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَاْ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya : Katakanlah sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.[1] (QS.Al-An’am: 162-163).
B.   Makna Mufradat[1]
(Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku) amal ibadahku yaitu ibadah haji dan lain-lainnya
قُلْ انَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ
hidupku (kehidupanku)
وَمَحْيَايَ
dan matiku (meninggalku)
وَمَمَاتِيْ
hanyalah untuk Allah (tuhan semesta alam)
لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
(tiada sekutu bagi-Nya) di dalam hal tersebut
لاَشَرِيْكَ لَه
(dan demikian itulah) ketauhidan
وَبِذلِكَ
(yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah) dari kalangan umat ini
اُمِرْتُ وَ اَنَاْ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

B. Isi kandungan Qs. Al-an’am: 162-163.
Surah al-An‘am [6] Ayat 162–163 memberi penjelasan kepada kita tentang keikhlasan dalam beribadah. Ayat tersebut juga merupakan salah satu bagian doa iftitah salat yang diajarkan Rasulullah saw. yang artinya, ”. . . Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”
Ayat 162–163 Surah al-An‘am [6] merupakan pengakuan terhadap kekuasaan Allah Swt. Tidak ada Tuhan selain Allah Swt. dan hanya Dia yang patut disembah karena tidak ada satu pun makhluk yang dapat menandingi kekuasaan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Allah Swt. tidak menyukai orang-orang yang menyekutukan-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi yang artinya, ”Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Allah yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: ’Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal sesuatu amal ia menyekutukan kepada selain-Ku, maka Aku terlepas dari padanya, amal itu untuk sesuatu yang ia sekutukan’.” (H.R. Ibnu Ma-jah) Minimal lima kali dalam sehari semalam kita mengulangi ikrar dan pengakuan ini. Ikrar yang diucapkan pada saat hendak menunaikan salat menandakan bahwa kita ikhlas menunaikannya karena Allah Swt. semata.
Perintah untuk beribadah dengan ikhlas kepada Allah Swt. sangat wajar. Hal ini karena Dia telah mengaruniakan nikmat yang berlimpah kepada kita. Oleh karena itu, semua amal dan ibadah sehari-hari harus kita ikhlaskan hanya untuk mencari rida Allah Swt. Kesediaan mengerjakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya merupakan salah satu bentuk keikhlasan sebagai makhluk. Kewajiban beribadah kepada Allah Swt. sangat banyak macamnya seperti kewajiban menunaikan salat. Perintah menunaikan salat dapat kita temukan dalam ayat Al-Qur’an dan hadis. Ketika azan telah berkumandang, sebagai umat Islam kita hendaknya segera menunaikan salat dengan meninggalkan aktivitas duniawi untuk sementara. Salat hendaknya ditunaikan tanpa paksaan dari pihak lain dengan kesadaran untuk tunduk pada perintah-Nya secara ikhlas. Selain itu, dengan menunaikan salat seseorang dapat berkomunikasi dan mengadukan persoalan yang dihadapi secara langsung kepada zat Yang Mahaagung.
Semua ibadah yang kita kerjakan harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah Swt. semata. Pada saat kita mengerjakan ibadah mahdah, yaitu ibadah yang telah ada ketetapan secara pasti, seperti salat, puasa, haji, dan zakat harus diniatkan ikhlas karena Allah Swt. semata. Bukan hanya ibadah mahdah, tetapi ibadah gairu mahd.ah, yaitu ibadah yang tidak ada aturan yang pasti, harus didasarkan niat untuk menggapai rida dari Allah Swt. Dapat disimpulkan bahwa seluruh amaliah yang kita kerjakan seharihari harus diniatkan untuk mencari rida dari Allah Swt. Sebaliknya, jika amal kebajikan kita sehari-hari diniatkan untuk mendapat penghargaan, sanjungan, ataupun imbalan dari sesama manusia, belum dikatakan ikhlas karena Allah. Dengan demikian, perbuatan tersebut berarti tidak bernilai ibadah sehingga kita tidak berhak mendapatkan balasan kebaikan dari-Nya.
Selain amal yang harus diniatkan ikhlas karena Allah Swt. semata, hidup dan mati juga diserahkan hanya untuk-Nya. Allah Swt. yang telah menciptakan diri kita dan seluruh makhluk. Allah yang telah mengaruniai nyawa sehingga kita dapat merasakan kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, kita harus menyerahkan kesempatan hidup untuk mengabdi kepada- Nya. Oleh karena hidup hanya untuk Allah Swt., kita pun rela berkorban untuk memenuhi perintah-Nya. Hanya Allah Swt. yang memiliki kekuasaan untuk menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Seluruh makhluk akan kembali kepada-Nya.
Pada penghujung ayat pertama dijelaskan ”Tidak ada sekutu bagi Allah dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” Allah adalah Tuhan Maha Esa yang menciptakan, mengatur, dan memelihara makhluk-Nya. Dari sini, kita dianjurkan untuk menyerahkan diri kepada Allah dan melepaskan diri dari berharap kepada makhluk-Nya. Penyerahan diri inilah yang disebut dengan Islam. Sebagai bukti penyerahan diri kepada Allah, kita harus bersedia mengerjakan ibadah seperti yang diajarkan Rasulullah saw. serta menaati semua perintah dan menjauhi larangannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita menjadi seorang muslim sempurna yang memiliki keteguhan iman serta tekad yang kuat untuk menjalankan ibadah secara ikhlas karena Allah Swt.
        Dari kandungan ayat 162–163 Surah al-An‘am [6] dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1.    Menunaikan ibadah harus ikhlas untuk mencari rida Allah Swt.
2.    Hidup dan mati hanya Allah yang menentukan sehingga kita seharusnya bersikap ikhlas dalam menjalani hidup dan berserah diri jika Allah berkehendak mencabut nyawa kita.
3.    Larangan untuk menyekutukan Allah dengan segala sesuatu apa pun.
4.    Kita dianjurkan untuk berusaha menjadi golongan orang-orang yang berserah diri kepada Allah Swt.
Wujud peneladanan terhadap kandungan Surah al-An‘am [6] ayat 162–163 yang dapat kita lakukan dalam kehidupan seharihari adalah berniat dalam menunaikan ibadah hanya untuk Allah Swt. semata. Selain itu, suatu pekerjaan yang baik harus kita niatkan karena Allah Swt. Hal ini karena segala sesuatu tergantung pada niat. Jika suatu perbuatan diniatkan sebagai ibadah, Allah Swt. akan mencatatnya sebagai ibadah


[1]Imam Jalaludin Al-Mahalli. 2008. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabunnuzul. Penerjemah: Bahrun Abu bakar, L.C. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Hal: 579

Tidak ada komentar:

Posting Komentar