Love Valentine's Day Pumping Heart

Kamis, 02 Juni 2016

Tugas kuliah (MAKALAH INSAN KAMIL)

INSAN KAMIL

BAB I
                                                       PENDAHULUAN
                   A.    Latar Belakang
             Manusia adalah sebuah ciptaan yang paling sempurna dibanding ciptaan yang lain, manusia yang dibekali dengan akal dan hati sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil. Sungguh sangat unik ketika kita mengkaji manusia karena penuh misteri khususnya dalam hal pencapaian diri atau pencapaian sebagai Insan Kamil, meskipun hal itu sulit untuk diraih tapi kita pun tidak semudah untuk menyerah, dengan dibekali kelebihan yang ada pada diri manusia maka tidak menutup kemungkinan untuk bisa mencapainya. Mengutip pernyataan Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah pengantar (Murtadha Muthahhari, 1994) mengatakan bahwa manusia merupakan miniatur dari alam raya. Jika pada alam raya terdapat tiga tingkat alam yaitu : rohani, khayali, dan jasmani, maka pada manusia ketiga alam tersebut juga terwujud yaitu dalam bentuk ruh, nafs(diri), dan jism (tubuh).
            Perlu kita ketahui Insan (manusia) adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan. Meskipun dalam prakteknya manusia tidak bisa sempurna tapi kitapun tetap berusaha untuk menjadi pribadi-pribadi yang selalu berusaha dan berbuat yang terbaik bagi yang lainya.

                  B.     Rumusan Masalah
                  1.      Jelaskan yang dimaksud dengan Insan kamil?
                  2.      Bagaimanakah pandangan ulama sufi mengenai Insan Kamil?
                  3.       Bagaimana konsep insan kamil menurut para tokoh tasawuf?
                  4.      Bagaimana insan kamil dalam Al-qur’an?
            5.      Apasajakah Ciri-ciri Insan Kamil?
                  6.      Bagaimana kriteria dan cara pencapaian agar bisa menjadi Insan Kamil?

                 C.    Tujuan
                  1.      Untuk memenuhi tugas pertama mata kuliah Akhlak Tasawuf.
                 2.      Sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai Akhlah Tasawuf khususnya tentang Insan Kamil.
                  3.      Mengetahui cirri-ciri Insan Kamil.
4                4.      Mengetahui criteria dan cara pencapaiannya.







BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Insan Kamil
          Insan Kamil berarasal dari bahasa arab, yaitu dari dua kata : insan dan kamil. Secara harfiyah, insan berarti manusia, dan kamil berarti sempurna. Dengan demikian, insan kamil berarti manusia yang sempurna.[1]
          Kamal atau kamil digunakan untuk sesuatu yang utuh dan rampung, dalam tingkat atau derajat yang lebih tinggi, bahkan dari yang tinggi ini ada yang lebih tinggi lagi dan seterusnya. Kamal atau kamil adalah sifat bagi sesuatu secara vertikal, sedangkan taam adalah sifat bagi sesuatu secara horisontal. Ketika sesuatu telah sampai pada batas akhirnya atau selesai secara horisontal, maka dapat dikatakan telah menjadi ta’am, dan ketika sesuatu itu bergerak secara vertikal, maka ia telah memperoleh kamil.
        Insan Kamil secara umum, adalah manusia ta’am yang mulai melangkah secara vertikal, sehingga menjadi kamil, lebih kamil lagi dan seterusnya hingga pada batas akhir kesempurnaan ketika tak seorang pun dapat menjangkau kedudukannya. Manusia yang telah mencapai tingkat itu adalah manusia yang paling sempurna. Insan kamil atau manusia paripurna dibahas secara khusus oleh para sufi, khususnya Ibnu Arabi dan Abdul Karim Al-Jili. Pengertian insan kamil tidak sesederhana seperti yang selama ini dipahami kalangan ulama, yaitu manusia teladan dengan menunjuk pada figur Nabi Muhammad SAW.
       Bagi para sufi, insan kamil adalah lokus penampakan (madzhar) diri Tuhan paling sempurna, meliputi nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah SWT memilih manusia sebagai makhluk yang memiliki keunggulan (tafadhul) atau ahsani taqwim (ciptaan paling sempurna) menurut istilah Alquran. Disebut demikian karena di antara seluruh makhluk Tuhan manusialah yang paling siap menerima nama-nama dan sifat-sifat Tuhan.Makhluk lainnya hanya bisa menampakkan bagian-bagian tertentu. Bandingkan dengan mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan malaikat tidak mampu mewadahi semua nama dan sifat-Nya.
        Itulah sebabnya mengapa manusia oleh Seyyed Hossein Nasr disebut sebagai satu-satunya makhluk teomorfis dan eksistensialis, seperti dijelaskan pada artikel yang lalu.Lagi pula, unsur semua makhluk makrokosmos dan makhluk spiritual tersimpul dalam diri manusia.Ada unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang sebagai makhluk fisik. Ada juga unsur spiritualnya yang non-fisik, yakni roh.Tegasnya, manusia sempurna secara kosmik-universal dan sempurna pula pada tingkat lokal-individual.Itu pula sebabnya manusia sering disebut miniatur makhluk makrokosmos (mukhtasar al-‘alam) atau mikrokosmos (al-insan al-kabir).
         Keparipurnaan manusia diungkapkan pula dalam ayat dan hadis. Dalam Alquran disebutkan, manusia diciptakan paling sempurna (QS. At-Tin: 4) 

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
dan satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan “dua tangan” Tuhan (QS. Shad: 75), 

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَأَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
“Allah menghardik Iblis: "Hai Iblis, apa yang menyebabkanmu enggan sujud menghormati Adam, suatu makhluk yang telah Aku ciptakan sendiri dengan kekuasaan Ku?, Aku sendirilah yang menciptakan Adam itu , bukan makhluk Ku yang menciptakannya. Kenapa kamu berlaku angkuh dan sombong. Apakah kamu telah merasa dirimu lebih tinggi dan lebih terhormat di antara makhluk-makhluk yang telah Aku ciptakan, sehingga kamu berpendapat bahwa kamu berhak dan berwenang berbuat apa yang kamu inginkan?".
Dan diajari langsung oleh Allah semua nama-nama (QS. Al-Baqarah: 31).

وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia kemukakan semua kepada Malaikat, lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.
           Dalam hadis-hadis tasawuf, banyak dijelaskan keunggulan manusia, seperti, Innallaha khalaqa ‘Adam ‘ala shuratih (Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya). Oleh kalangan sufi, ayat dan hadis itu dinilai bukan saja menunjukkan manusia sebagai lokus penjelmaan (tajalli) Tuhan paling sempurna, melainkan juga seolah menjadi nuskhah atau salinan. Menurut istilah Ibnu Arabi disebut as-shurah al-kamilah. Manusialah satu-satunya makhluk yang mampu mengejawantahkan nama dan sifat Allah baik dalam bentuk keagungan maupun keindahan Allah. Malaikat tidak mungkin mengejawantahkan sifat Allah Yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima Taubat karena malaikat tidak pernah berdosa.
           Tuhan tidak bisa disebut Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima Taubat tanpa ada makhluk dan hambanya yang berdosa, sementara malaikat tidak pernah berdosa. Demikian pula makhluk-makhluk Allah lain yang hanya mampu mengejawantahkan sebagian nama dan sifat Allah. Dari sini sesungguhnya manusia disebut insan kamil. Istilah al-insan al-kamil pertama kali muncul dalam literatur islam pada abad VII H/XIII M atas gasan Muhyi al-Din ibnu Arabi (560 H-638 H/1165 M-1240 M). Menurut ibnu Arabi, al-insan al-kamil pada satu sisi adalah manusia sempurna yang menggambarkan citra tuhan secara definitive dan utuh , karena pada dirinya tuhan bertajalli secara sempurna.

B. Pandangan Ulama Sufi dalam Permasalahan Insan Kamil
      Para sufi meyakini Nabi Muhammad SAW, seperti aqidah yang dianut Ibnu ‘Arobi, adalah satu-satunya makhluk Allah yang telah sampai derajat uluhiyah dan bertahta di ‘arsy Allah SWT dan beliau adalah nur yang darinya tercipta semua ciptaan Allah. Manusia dalam pandangan sufi merupakan pancaran tuhan. Aliran Unionisme adalah aliran yang menganut paham bahwa manusia adalah pancaran dari tuhan dan memiliki sifat-sifat ketuhanan. Manusia atau hamba pada hakikatnya adalah sama dengan tuhan.
        Insan Kamil menurut paham Union-mistik ini adalah manusia yang telah sanggup melepaskan ikatan materinya, sehingga memancarlah sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya, dan kehidupannya mencerminkan kehidupan tuhan.Teori tentang insan kamil diperkuat dengan teori asal-usul manusia yang berasal dari pancaran dzat tuhan dan memang bersifat keilahian.Oleh karena itu, insane kamil berarti tuhan yang Nampak.
       Abd al karim ibn ibrohim ibn ‘abd al karim bin khiliofah bin ahmad bin Mahmud al jilli (767-826 H/1365-1428 M) yang terkenal dengan teori al insane al kamil mengidentifikasikan insane kamil ini dalam dua pengertian.Pertama,dalm pengertian kkonsep pengetahuan tentang manusia yang sempurna.Kedua,terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama dan sifat-sifat allah kedalam hakikat dan esensi dirinya. Menurutnya, manusia dapat mencapai kesempurnaan keinsaniahnya melalui latihan rohani(riadhoh) dan pendakian mistik(taraqqi).Latihan ini diawali dengan kontemplasi tentang nama dan sifat-sifat allah(hudhur).

C. Konsep Insan Kamil Menurut Para Tokoh Tasawuf
            Beberapa tokoh tasawuf menjelaskan tentang konsep insan kamil dalam ajarannya. Yaitu:
1.      Insan Kamil Menurut Muhyiddin Ibnu ‘Arabi
     Insan kamil ialah manusia yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh.Adapun kesempurnaan dari segi pengetahuannya ialah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi, yakni menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan, yang disebut ma’rifat.
       Kesempurnaan insan kamil itu pada dasarnya disebabkan karena pada dirinya Tuhan ber-tajalli secara sempurna melalui hakikat Muhammad (al-haqiqah al-Muhammadiyah). Hakikat Muhammad merupakan wadah tajalli Tuhan yang sempurna.
       Jadi, dari satu sisi, insan kamil merupakan wadah tajalli Tuhan yang paripurna, sementara disisi lain, ia merupakan miniatur dari segenap jagad raya, karena pada dirinya terproyeksi segenap realitas individual dari alam semesta, baik alam fisika maupun metafisika.

2.      Insan Kamil Menurut ‘Abd Al-Karim Al-Jilli
      Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal.Jati diri Muhammad yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW asebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.
      Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad oleh kalangan sufi, disamping terdapat dalam diri Muhammad juga dipancarkan Allah SWT ke dalam diri Nabi Adam AS. Al-Jili dengan karya monumentalnya yang berjudul al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Konsep Pengetahuan tentang Misteri yang Pertama dan yang Terakhir) mengawali pembicaraannya dengan mengidentifikasikan insan kamil dengan dua pengertian.
a.   Insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan.Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna.Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia.Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.
b.  Insan kamil terkait dengan keyakinan bahwa yang memiliki sifat mutlak dan sempurna itu mencakup Asma’ sifat dan hakikatNya.
      Bagi al-Jili, manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan pendakian mistik, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat. Latihan rohani ini diawali dengan manusia bermeditasi tentang nama dan sifat-sifat Tuhan, dan mulai mengambil bagian dalam sifat-sifat Illahi serta mendapat kekuasaan yang luar biasa.
      Al-Jili membagi insan kamil atas tiga tingkatan.
1)    Tingkat permulaan (al-bidāyah). Pada tingkat ini insan kamil mulai dapat merealisasikan asma dan sifat-sifat Ilahi pada dirinya.
2)  Tingkat menengah (at-tawasut). Pada tingkat ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan yang terkait dengan realitas kasih Tuhan (al-haqāiq ar-rahmāniyah). Sementara itu, pengetahuan yang dimiliki oleh insan kamil pada tingkat ini juga telah meningkat dari pengetahuan biasa, karena sebagian dari hal-hal yang gaib telah dibukakan Tuhan kepadanya.
3)   Tingkat terakhir (al-khitām). Pada tingkat ini insan kamil telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh.Dengan demikian pada insan kamil sering terjadi hal-hal yang luar biasa.
 
D.    Insan Kamil dalam Al-qur’an dan Hadits
    Nabi Muhammad Saw disebut sebagai teladan insan kamil atau istilah populernya di dalam (Q.S. Al- Ahdzab:21)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

            Allah SWT tidak membiarkan kita untuk menginterpretasikan tata nilai tersebut semaunya, berstandard seenaknya, tapi juga memberikan kepada kita, Rasulullah SAW yang menjadi uswah hasanah.Rasulullah SAW merupakan insan kamil, manusia paripurna, yang tidak ada satupun sisi-sisi kemanusiaan yang tidak disentuhnya selama hidupnya.Ia adalah ciptaan terbaik yang kepadanya kita merujuk akan akhlaq yang mulia.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlaq yang mulia.” (QS. Al-Qolam:4)
            Nur atau cahaya yang menjadi sosok diri Muhammad adalah sebagai seorang Rasulullah Rahmatan Lil’alamin. Muhammad adalah nabi akhir zaman dan karena itu menjadi penutup semua nabi terdahulu yang diutus untuk menjadi saksi kehidupan manusia dan pembawa berita tentang kehidupan mendatang di akhirat sesuai dengan firman Allah SWT:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al Maidah 15-16)
Hadits Rasulullah Saw.
ان الله لا ينظر الى صوركم ولا الى اجسا مكم واموا لكم ولكن ينظر الى قلوبكم واعملكم
Artinya: “Sesungguhnya Allah swt. Tidak akan melihat pada rupa, tubuh dan harta kamu, tetapi Allah melihat pada hati dan perbuatan kamu.” (HR. Thabrani).[2]

E.     Ciri-ciri Insan Kamil
     Untuk mengetahui ciri-ciri Insan Kamil dapat ditelusuri pada berbagai pendapat yang dikemukakan para ulama yang keilmuannya sudah diakui, termasuk di dalamnya aliran-aliran. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Berfungsi Akalnya Secara Optimal
       Fungsi akal secara optimal dapat dijumpai pada pendapat kaum Mu’tajzilah. Menurutnya manusia yang akalnya berfunsi secara optimal dapat mengetahui bahwa segala perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya dan merasa wajib melakukan hal semua itu walaupun tidak diperintahkan oleh wahyu.Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib melakukan perbuatan yang baik. Dan manusia yang demikianlah yang dapat mendekati tingkat insan kamil.Dengan demikian insan kamil akalnya dapat mengenali perbuatan yang baik dan perbuatan buruk karena hal itu telah terkandung pada esensi perbuatan tersebut.[3]

2.      Berfungsi Intuisinya
        Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan berfungsinya intuisi yang ada dalam dirinya.Intuisi ini dalam pandangan Ibn Sina disebut jiwa manusia (rasional soul).Menurutnya jika yang berpengaruh dalam diri manusia adalah jiwa manusianya, maka orang itu hampir menyerupai malaikat dan mendekati kesempurnaan.[4]

3.      Mampu Menciptakan Budaya
        Sebagai bentuk pengamalan dari berbagai potensi yang terdapat pada dirinya sebagai insan, manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu mendayagunakan seluruh potensi rohaniahnya secara optimal.Menurut Ibn Khaldun manusia adalah makhluk berfikir.Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat kemampuan berfikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh  makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.[5]
         Tetapi dalam kacamata Ibn Khaldun, kelengkapan serta kesempurnaan manusia tidaklah lahir dengan begitu saja, melainkan melalui suatu proses tertentu. Proses tersebut sekarang ini dikenal dengan revolusi.[6]

4.      Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan
        Manusai merupakan makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan (fitrah).Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan, dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut membuat ia menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Manusia seabagai khalifah yang demikian itu merupakan gambaran ideal.Yaitu manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok masyarakat maupun sebagai individu.Yaitu manusia yang memiliki tanggung jawab yang besar, karena memiliki daya kehendak yang bebas.

5.      Berakhlak Mulia
            Insan kamil juga adalah manusia yang berakhlak mulia.Hal ini sejalan dengan pendapat Ali Syari’ati yang mengatakan bahwa manusia yang sempurna memiliki tiga aspek, yakni aspek kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain ia memiliki pengetahuan, etika dan seni. Semua ini dapat dicapai dengan kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas.Manusia yang ideal (sempurna) adalah manusia yang memiliki otak yang briliyan sekaligus memiliki kelembutan hati.Insan Kamil dengan kemampuan otaknya mampu menciptakan peradaban yang tinggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki kedalaman perasaan terhadap segala sesuatu yang menyebabkan penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.
6.      Berjiwa Seimbang
            Menurut Nashr, bahwa manusia modern sekarang ini tidak jauh meleset dari siratan Darwin. Bahwa hakikat manusia terletak pada aspek kedalamannya, yang bersifat permanen, immortal yang kini tengah bereksistensi sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang teramat panjang.Tetapi disayangkan, kebanyakan dari merekan lupa akan immortalitas yang hakiki tadi. Manusia modern mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar, yang bersifat ruhiyah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan ketentraman batin, yang berarti tidak hanya keseimbangan diri, terlebih lagi bila tekanannya pada kebutuhan materi kian meningkat, maka keseimbangan akan semakin rusak. Kutipan tersebut mengisyaratkan tentang perlunya sikap seimbang dalam kehidupan, yaitu seimbang antara pemenuhan kebutuhan material dengan spiritual atau ruhiyah.Ini berarti perlunya ditanamkan jiwa sufistik yang dibarengi dengan pengamalan syari’at Islam, terutama ibadah, zikir, tafakkur, muhasabbag dan seterusnya.

F. Kriteria Dan Cara Pencapaian Insan Kamil
        Menurut Syekh Siti Jenar, insan kamil atau manusia sempurna adalah mereka yang telah memiliki upaya terus-menerus bagi peningkatan dan pembersihan dirinya, yakni mereka yang telah mampu memisahkan dan melepaskan dirinya dari hal-hal keduniaan. Karena memasuki wilayah kemanunggalan, walaupun dalam interaksi fisik kemanusiaan tidak terlepas sama sekali. Tujuan pembersihan ini ada dua: pertama, untuk mencapai sifat-sifat Allah. Yakni, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang mulia.Tataran ini mengantarkanpelakunya pada jumbuhing kawula Gusti.Kedua, untuk mencapai Dzat Allah.Yakni, mengenal-Nya melalui ma’rifat dan hakikat yang mengantarkan pelakunya kepada pamoring kawula Gusti.
         Dzikir akan mengantarkannya kepada nurullah sedangkan seorang mukmin akan melihat dengan nurullah. Dengan daya pancar nurullah itulah seorang mukmin akan menjadi cermin bagi mukmin lainnya. Orang yang berilmu membuat bayangan, tetapi orang ‘arif mengkilaukan cermin hati yang di dalamnya terdapat bayangan hakikat.Apabila mata hati itu bersih berkilauan dan suci, munculah dalam cermin itu berbagai rahasia Allah berupa hakikat yang dicurahkan kepada hati yang bersih berkilauan dan suci.
       Apabila cermin hati telah sempurna karena selalu dibersihkan dengan dzikrullah hingga berkilauan, pemilik hati itu akan sampai kepada sifat-sifat Ketuhanan dan mengenal sifat-sifat itu. Hal ini hanya mungkin terjadi bila cermin hati kita telah bersih berkilau. Insan kamil sendiri diartikan sebagai manusia nan sempurna. Adapun yang dimaksudkan dengan sempurna adalah sempurna dalam ibadah dan penghidupannya. Dan seseorang dapat dianggap sempurna jika ia memiliki kriteria tertentu. Kriteria tersebut dimiliki oleh manusia-manusia biasa yang mau berusaha untuk menjadi ‘luar biasa’ di hadapan Tuhannya. Mereka terlepas dari para sufi, dai, ustaz, kai, atau orang biasa sekalipun pada hakikatnya mampu meneladani segala teladan Rasulullah, jika ia meyakini Allah sebagai Rabb-nya, Alquran sebagai pedoman hidupnya, dan menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya insan yang patut diteladani.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
        Insan Kamil artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna.
        Pada dasarnya semua manusia di dunia ini menghendaki dirinya menjadi insan kamil (manusia sempurna) sebagaimana dicerminkan setiap Nabi/Rasul yang berperan sebagai pembawa risalah sekaligus figur atau uswatun hasanah yang mencerminkan salah satu sikap insan kamil.Islam dengan rasulnya sebagai teladan dalam pembentukan akhlak yang mulia telah memberikan konsep yang jelas tentang insan kamil (manusia sempurna) dalam tolak ukur kesempurnaan makhluk.
      Secara garis besar ciri-ciri Insan Kamil dapat dikatagorikan menjadi tiga bagian yaitu: Mampu berkomunikasi dengan Tuhan; Mampu berkomunikasi dengan sesama makhluk; Mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri.










DAFTAR PUSTAKA
·         Murtadha Muthahari, Manusia Sempurna, terj. M. Hashem, Jakarta : Lentera, 2003.
·         Natta Abuddin, 2010. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Rajawali pers.
·         Raksa Aji, 2011. Ciri-ciri Insan Kamil. http://ajiraksa.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 September 2013.
·   Pujangga Putra, 2010. Rahasia mencapai derajat insan kamil. http://syechlemahabang.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 September 2013.
·         Suteja, 2011. Teori dasar tasawuf. Cirebon: Nurjati press.


[1] Lihat Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Hida-karya,1990),halm.51 dan 387.
[2] Lihat Ahmad Al Hasyimi Bek, Mukhtar Al Hadits al Nabawiyah, (Mesir: Matba’ah Hijazi,1948),cet.VI,HLM.39.
[3] Azyumardi Azra, antara kebebasan dan keterpaksaan manusia: pemikiran islam tentang perbuatan manusia,dalam Dawam Rahardjo(ed.),Insan Kamil Konsepsi Manusia menurut islam, (Jakarta :Grafiti Pers.1987),cet.11,hlm.43.
[4] Iqbal Abdul Rauf Saimima, sekitar filsafat jiwa dan manusia dari ibnu sina, dalam raharjo (ed.),ibid.,hlm.65. lihat harun nasution, filsafat dan mistisisme dalam islam. (Jakarta:bulan bintang,1983).
[5] Formulasi diatas diambil secara bebas dari M.SastraPartedeja, culteure and religion,hlm.25.
[6] Fachry Ali, realitas manusip:pandangan sosiologis ibnu khaldun,dalam dawam rohardjo, (ed.),op.cit.,hlm.149.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar